BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Fenomena
distribusi adalah suatu fenomena dimana sistribusi suatu senyawa antara 2 fase cair yang tidak saling
bercampur, tergantung pada sifat fisik-kimia antara pelarut dan senyawa
tersebut.
Berbicara
tentang fenomena distribusi, kita membicarakan kelarutan pula. Pengetahuan ini
sangat penting bagi pharmacist karena dengan mengetahuhinya dapat membantu
untuk memilih medium pelarut yang paling baik untuk obat atau kombinasi obat,
membantu mengatasi kesilutan-kesulitan tertentu yang timbul pada waktu
pembuatan larutan farmasetis dan lebih jauh lagi, dapat bertindak sebagai
standar atau uji kemurnian. Pengetahuan yang lebih mendetail menganai kelarutan dan sifat-sifat yang berhubungan
dengan itu juga memberikan informasi mengenai struktur obat dan gaya
antarmolekul obat.
Kelarutan
suatu senyawa bergantung pada sifat fisika dan kimia zat terlarut dan pelarut,
juga bergantung padafaktor temperature, tekanan, pH larutan dan untuk jumlah
yang lebih kecil, bergantung pada hal terbaginya zat terlarut.
Dari Sembilan kemungkinan tipe campuran, berdasarkan pada ketiga
wujud zat, hanya gas dalam cairan, cairan dalam cairan dan padat dalam cairan
sajalah yang paling penting dalam bidang farmasi.
B.
Maksud
Praktikum
Adapun
tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui dan memahami cara penentuan koefisien
partisi suatu zat didalam dua pelarut yang saling tidak bercampur.
C.
Tujuan
Praktikum
Adapun
tujuan dilakukannya percobaan ini adalah :
1.
Menentukan koefisien
distribusi suatu zat
2.
Menentukan konsentrasi
atau kadar asam borat dan asam benzoate.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Dasar
Teori
Fenomena
distribusi adalah suatu fenomena dimana distribusi suatu senyawa antara dua
fase cair yang tidak saling bercampur, tergantung pada interaksi fisik dan
kimia antara pelarut dan senyawa terlarut dalam dua fase yaitu struktur molekul
( Anonim, 2014 )
Koefisien partisi adalah perbandingan konsentrasii kesetimbangan
zat dalam dua pelarut yang berbeda yang tidak bercampur. Factor yang mempengaruhi
koefisien partisi adalah konsentrasi zat terlarut dalam pelarut organic dan
pelarut non organic ( Anonim, 2014 )
Zat terlarut
terlarut dalam satu fase , dalam kesetimbangan dengan fase bercampur
lain , didistribusikan antara dua fase sehingga rasio
konsentrasi dalam dua fase adalah konstan pada temperatur tertentu . pada
kesetimbangan ini konstan, K , disebut sebagai konstanta distribusi atau
koefisien partisi , didefinisikan oleh Nernst sebagai K = Cu/Cl dimana cu dan cl adalah konsentrasi di fase atas dan
bawah , masing-masing. hubungan
berlaku ketika molekul setiap fase dalam keadaan yang sama agregasi . jika zat terlarut dipisahkan atau
berhubungan , bentuk-bentuk yang
lebih kompleks dari persamaan harus diterapkan . itu juga
diakui bahwa hanya dalam sistem yang ideal adalah koefisien partisi independen
dari tota zat terlarut ini, penyimpangan ini begitu
terkenal sehingga dalam literatur teknik kimia persamaan di atas dianggap kasus
membatasi .partisi lemak / air dari suatu
molekul merupakan indeks yang berguna dalam kecenderungan untuk absorpsi oleh difusi
pasif (Gandjar, 2007).
Pelarut secara umum dibedakan
atas dua pelarut, yaitu pelarut air dan bukan air. Salah satu ciri penting dari
pelarut tetapan dielektriknya (E), yaitu gaya yang bekerja antara dua muatan
itu dalam ruang hampa dengan gaya yang bekerja pada muatan itu dalam dua
pelarut. Tetapan ini menunjukkan sampai sejauh mana tingkat kemampuan
melarutkan pelarut tersebut. Misalnya air dengan tetapan dielektriknya yang
tinggi (E = 78,5) pada suhu 25oC, merupakan pelarut yang baik untuk
zat-zat yang bersifat polar, tetapi juga merupakan pelarut yang kurang baik
untuk zat-zat non polar. Sebaliknya, pelarut yang mempunyai tetapan dielektrik
yang rendah merupakan pelarut yang baik untuk zat non polar dan merupakan
pelarut yang kurang baik untuk zat berpolar (Rifai, 1995).
Ada
beberapa faktor yang dapat mempengaruhi distribusi zat dalam larutan, yaitu
1.
Temperature, kecepatan berbagai reaksi bertambah kira-kira 2
atau 3 tiap kenaikan
C.
2.
Kekuatan ion, semakin kecil konsentrasi suatu larutan maka
laju distribusi makin kecil.
3.
Konnstanta Dielektrik, efek konstanta dielektrik terhadap
konstanta laju reaksi ionic diekstrapolarkan sampai pengenceran tak terbatas,
yang pengaruh kekuatan ionnya 0. Untuk reaktan yang kekuatannya bermuatan
berlawanan maka laju distribusi reaktan tersebut adalah positif dan untuk
reaktan yang muatannya sama maka laju distribusinya negatif.
4.
Katalisis, katalisis dapat menurunkan laju-laju distribusi (
katalis negatif ). Katalis dapat juga menurunkan energi aktivitas dengan
mengubah mekanisme reaksi sehingga kecepatan bertambah.
5.
Katalis Asam Basa Spesifik, laju distribusi dapat dipercepat
dengan penambahan asam atau basa. Jika laju peruraian ini terdapat bagian yang
mengandung konsentrasi ion hydrogen atau hidroksi.
6.
Cahaya energy, cahaya energi seperti panas dapat memberikan
keaktifan yang diperlukan untuk terjadi reaksi. Radiasi ini dengan frenkuensi
yang sesuai dengan energy yang cukup akan diabsorbsi untuk mengaktifan
molekul-molekul ( Cammarata, 1995 ).
Pada
umumnya obat-obat bersifat asam lemah atau basa lemah. Jika obat tersebut
dilarutkan dalam air sebagian akan terionisasi. Besarnya fraksi obat yang
diteorikan tergantung pada pH larutannya. Obat-obat yang tidak terionkan lebih
mudah larut dalam lipida, sebaliknya yang dalam bentuk ion kelarutannya kecil
atau bahkan praktis tidak larut. Dengan demikian pengaruh pH sangat besar
terhadap kecepatan absorpsi obat yang bersifat asam lemah atau basa lemah (
Sardjoko, 1987 ).
B.
Uraian
Bahan
1.
Asam Benzoat ( FI III,
hal 49 )
Nama
Resmi : ACIDUM BENZOICUM
Nama
Lain : Asam Benzoat
RM
/ BM :
/
122,12
Pemerian : Hablur halus dan ringan, tidak berwarna,
tidak berbau
Kelarutan
: Larut dalam lebih kurang 350
bagian air, dalam lebih kurang 3
bagian etanol ( 95 % ), dalan 8 bagian kloroform P dan dalam 3 bagian eter P.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan
: sebagai sampel
2.
Asam Borat ( FI III
1979, hal 49 )
Nama
Resmi : ACIDUM BORICUM
Nama
Lain : Asam Borat
RM
/ BM :
/ 61,83
Pemerian : Hablur,serbuk hablur putih atau sisik mengkilap tidak berwarna,
kasar, tidak berbau, rasa agak asam danpahit kemudian manis.
Kelarutan : Larut dalam 20 bahan air, dalam 3 bagian air mendidih dalam
16 bagian etanol ( 95 % ) P dan dalam 5 bagian gliserol P.
Penyimpanan
: Dalam wada tertutup baik
Kegunaan
: sebagai sampel
3.
Indicator PP ( FI III
1979, hal 675 )
Nama
Resmi : FENOFTALEIN
Nama
Lain : fenoftalein, indicator pp
RM / BM :
/ 318,33
Pemerian : Serbuk hablur putih atau putih kekuningan lemah, tidak
berbau, stabil di udara.
Kelarutan
: praktis tidak larut dalam air,
larut dalam etanol
Penyimpanan
: dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan
:zat tambahan, indicator
4.
Minyak Kelapa ( FI III
1979, hal 456 )
Nama
Resmi : OLEUM COCOS
Nama
Lain : Minyak kelapa
RM
/ BM : -
Pemerian
: tidak berwarna atau kuning
pucat, bau khas, tidak tengik
5.
Natrium Hidroksida ( FI
III 1979, hal 412 )
Nama
Resmi : NATRII HYDROXIDUM
Nama
Lain : Natrium Hidroksida
RM
/ BM : NaOH / 40,00
Pemerian : bentuk batang , butiran, massa hablur atau keping ,
kering, keras, rapuh dan menunjukkan susunan hablur, putih, mudah melelh basah.
Sangat alkalis dan korosif.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air dan dalam etanol( 95 % ) P
Penyimpanan
: dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : sebagai titran
C.
Prosedur
Kerja
1. Timbang
100 mg asam borat, lalu dimasukkan dalam enlenmeyer 250 mL
2. Larutkan
dengan aquadest, kemudian dicukupkan volume larutan hingga 100 mL dengan
aquadest
3. Ambil
25 mL dari larutan tersebut, masukkan dalam corong pisah, dan tambahkan dengan
25 mL minyak kelapa
4. Kocok
selama beberapa menit campuran didalam corong pisah. Diamkan selama 10-15 menit
hingga kedua cairan memisah satu sama lain
5. Buka
tutup corong pisah, lalu pisahkan air dari minyak dengan menampung dalam
enlenmeyer
6. Tambahkan
indicator fenoftalein sebanyak 3 tetes ke dalam enlenmeyer
7. Titrasi
larutan dengan titran larutan baku NaOH 0,1N sampai terjadi perubahan warna
indicator dari bening menjadi merah muda.
8. Ambil
25 mL larutan no.2 di atas, kemudian
9. Ulangi
prosedur di ata untuk asam benzoate
10. Hitung
koefisien partisi.
BAB
III
METODE
KERJA
A.
Alat
Adapun alat yang digunakan dalam
percobaan adalah batang pengaduk, bulk, buret 50 ml, botol semprot, corong,
corong pisah, enlenmeyer 100 ml, gelas ukur 50 ml, gelas ukur 100 ml, penyangga
corong pisah, pipet skala 10 & 15 ml, pipet tetes, statif dan klem dan
vortex.
A.
Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam
percobaan adalah asam benzoate, asam borat, indicator fenoftalein, dan larutan
baku NaOH 0,0964 N
B.
Cara
Kerja
Tanpa partisi
Disediakan
alat dan bahan, 100 mg asam benzoat yang telah ditimbang, dimasukkan ke dalam
erlenmeyer 250 ml, dilarutkan dengan aquades 100 ml dan dengan alat ,Dipipet 25
ml dari larutan tersebut masukkan ke dalam erlenmeyer
lalu ditambahkan indikator fenoftalein sebanyak 3 tetes,
dititrasi larutan dengan titran larutan baku NaOH 0,1 N sampai terjadi
perubahan warna indikator dari bening menjadi merah muda.
Dipartisi
Dipipet
25 ml sisa larutan asam benzoat yang telah dilarutkan di atas, di masukkan
dalam corong pisah dan ditambahkan dengan 25 ml minyak kelapa. dikocok selama
beberapa menit campuran tersebut, lalu didiamkan selama 15 menit di penyangga
hingga kedua cairan memisah satu sama lain. dibuka tutup corong pisah, lalu
pisahkan air dari minyak dengan menampung dalam erlenmeyer kemudian ditambahkan
indikator fenoftalein sebanyak 3 tetes kedalam erlenmeyer, dititrasi larutan
dengan titran larutan baku NaOH 0,1 N sampai terjadi perubahan warna indikator
dari bening menjadi merah muda lalu dihitung koefisien partisinya. Diulangi
prosedur di atas untuk asam borat.
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil
|
klp
|
Sampel
|
Volume
titran
|
%
Kadar
|
Koef.
Distribusi
|
|
1
|
Asam
Borat 1
|
2,1
ml
|
3,274
%
|
0,967
|
|
3
|
Asam
Borat 2
|
2
ml
|
0,118
%
|
0,96
|
|
5
|
Asam
Borat 3
|
1
ml
|
15,95
%
|
0,8441
|
|
2
|
Asam
Benzoat 1
|
0,5
ml
|
3,948
%
|
0,84208
|
|
4
|
Asam
Benzoat 2
|
0,5
ml
|
3,94
%
|
0,9606
|
B.
Perhitungan
%
cb =
%
cb =
=
= 0,985 mg
K =
=
= 0,9606
C.
Pembahasan
Fenomena distribusi adalah suatu fenomena dimana distribusi
suatu senyawa antara dua fase cair yang tidak saling bercampur, tergantung pada
interaksi fisik dan kimia antara pelarut dan senyawa terlarut dalam dua fase
yaitu struktur molekul dan koefisien partisi adalah perbandingan konsentrasii
kesetimbangan zat dalam dua pelarut yang berbeda yang tidak bercampur. Factor
yang mempengaruhi koefisien partisi adalah konsentrasi zat terlarut dalam
pelarut organic dan pelarut non organic.
Tujuan dari percobaan ini
adalah untuk mengetahui sebenarnya bagaimana cara kerja partisi dalam suatu
larutan mengingat partisi inilah yang sangat berperan penting dalam pembuatann
suatu obat.
Cara kerja dalam
percobaan ada 2 yaitu dengan partisi dan tanpa partisi dimana cara kerja dengan
partisi pertama-tama Dipipet 25 ml sisa
larutan asam benzoat yang telah dilarutkan di atas, di masukkan dalam corong
pisah dan ditambahkan dengan 25 ml minyak kelapa. dikocok selama beberapa menit
campuran tersebut, lalu didiamkan selama 15 menit di penyangga hingga kedua
cairan memisah satu sama lain. dibuka tutup corong pisah, lalu pisahkan air
dari minyak dengan menampung dalam erlenmeyer kemudian ditambahkan indikator
fenoftalein sebanyak 3 tetes kedalam erlenmeyer, dititrasi larutan dengan
titran larutan baku NaOH 0,1 N sampai terjadi perubahan warna indikator dari bening menjadi merah muda
lalu dihitung koefisien partisinya. Diulangi prosedur di atas untuk asam borat.
Dan untuk capa pengerjaan tanpa partisi Disediakan alat dan bahan, 100 mg asam benzoat yang telah
ditimbang, dimasukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml, dilarutkan dengan aquades 100
ml dan dengan alat --- ,Dipipet 25 ml dari larutan tersebut masukkan ke dalam
erlenmeyer lalu
ditambahkan indikator fenoftalein sebanyak 3 tetes, dititrasi larutan dengan
titran larutan baku NaOH 0,1 N sampai terjadi perubahan warna indikator dari
bening menjadi merah muda.
Alasan dimana asam borat dan asam
benzoat ditambahkanke dalam minyak kelapa dan air kemudian dimasukkan ke dalam corong pisah kemudian
seterlah itu di lakukan pengocokan,
kareana agar zat dapat mengadakan keseimbangan antara yang larut dalam air dan
yang larut dalam minyak kelapa. Pada percobaan ini dilakukan pengocokan selama
5 menit agar gugus polar dan non polar dari asam borat maupun dari asam benzoat
dapat bereaksi dengan air dan minyak sehingga dapat dilihat pada pelarut mana
kelarutannya paling besar.
Tujuan dari campuran dalam corong pisah
didiamkan selama 10-15 menit, karena agar pemisahan antara minyak dan air bisa
sempurna. Alasan mengapa yang dilakukan titrasi hanya pada fase air saja.
dikarenakan bila lapisan minyak yang dititrasi maka akan terjadi reaksi
saponifikasi (penyabunan).
Dari percobaan,
koefisien partisi asam benzoate yang dipartisi tidak mencukupi 1 padahal
seharusnya koefisien partisinya harus 1 atau lebih dari 1. Hal ini disebabkan
oleh beberapa factor kesalahan dalam percobaan, diantaranya kurangnya volume
asam benzoate yang akan dipartisi yang seharusnya 25 mL menjadi 23 mL di
karenakan pada saat melarutkan asam benzoate dalam air dengan menggunakan
bantuan vortex, sebagian dari larutan terpercit keluarr dari wadah sehingga
volumenya berkurang, sampel yang tidak larut sempurna.
Aplikasi koefisien distribusi dalam bidang farmasi yaitu untuk menentukan
pengawet yang akan digunakan dalam sediaan dan untuk menentukan absorbsi dan
distribusi suatu bahan obat dalam tubuh. Pengawet yang baik dalam sediaan
emulsi, misalnya, harus dapat larut dalam air dan dalam minyak, sebab jika
pengawet hanya larut air maka fase minyak akan ditumbuhi oleh mikroorganisme
sehingga tidak menghasilkan suatu sediaan yang baik. Untuk menentukan absorbsi
obat, misalnya dalam pembuatan salep untuk menentukan bahan salep yang bekerja
pada lapisan kulit tertentu sehingga menghasilkan efek yang diinginkan.
BAB
V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari percobaan, dapat disimpulkan koefisien partisi dari:
1.
Kelompok
1 dengan sampel asam borat memperoleh koefisien partisi sebesar 0,967.
2.
Kelompok
2 dengan sampel asam benzoat memperoleh koefisien partisi sebesar 0,84208
3.
Kelompok
3 dengan sampel asam borat memperoleh koefisien partisi sebesar 0,96
4.
Kelompok
4 dengan sampel asam benzoat memperoleh koefisien partisi sebesar 0,9606
5.
Kelompok
5 dengan sampel asam boratmemperoleh koefisien partisi sebesar 0,84441
B. Saran
Sebaiknya pada saat praktikum alat beserta bahan cukup untuk semuan
kelompok agar setiap kelompok dapat melakukan percobaan dan mengetahui sendiri
reaksi-reaksi yang terjadi pada sampel ketika sebelum dipartisi dan setelah
dipartisi
DAFTAR
PUSTAKA
Anonim, 2014, Penuntun Farmasi Fisika 1, Universitas Muslim Indonesi
Cammarata, s., 1995, Farmasi
FisIka, UI-Press, Jakarta
Dirjen
POM, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III,
Departemen Kesehatan RI :Jakarta
Ernest.
1999 . Dinamika Obat. ITB. Bandung
Eugene, L
Parrot, Ph, D, 1970, Pharmaceutical
Technology, Lowa City
Gandjar, I., G. &
Abdul, R. 2007. Kimia Farmasi Analisis.
Pustaka Pelajar. Yogyakarta
Manfred, E., W ,
1979, Burger’s Medicinal Chemistry Part I,
United States
Martin,
Alfred. 1990. Farmasi Fisika 1.
Universitas Indonesia Press;
Jakarta.
Rivai, H., 1995,
Azas Pemeriksaan Kimia, UI-Press, Jakarta.
Sardjoko. 1987. Pedoman kuliah rancangan obat.
Yogyakarta: PAU Bioteknologi Yogyakarta. Universitas Gadjah Mada.
Wayne P. Olson,
1995, pharmaceutical And Biotechnology
Application,CRC Press
Wiley,VCH, 1997, Current Tools for MedicinalChemistry :
New York
Tidak ada komentar:
Posting Komentar